Jumat, Februari 6

SebuahPelukan

Memang benar, sesuatu terasa sangat berharga saat telah tiada. Itu yang aku rasakan beberapa waktu yang lalu. Efek dari sebuah pelukan. Yang menghantarkanku pada kenangan saat nenek masih ada.

Nenekku, sosok yang tua dan tergopoh-gopoh saat berjalan itu sangat memanjakanku. Aku dipanggilnya Ima, entah kenapa, atau karena lebih gampang di lafalkan olehnya? Ia sangat senang bila aku mengunjunginya, bahkan pernah merengek-rengek minta meneleponku hanya karena ingin cucunya datang berkunjung. Yang kutahu, nenek tak bisa menelepon, dan pendengarannya sudah sedikit kabur. Akupun harus berbicara lebih keras bila ingin meminta sangu… :p

Kabar nenek telah tiada sampai ke telingaku. Sebelumnya beliau tidak sadarkan diri selama dua hari. Aku tidak berkunjung, aku takut. Bahkan sampai nenek tiada pun, aku belum menengoknya. Hanya sesal saat itu yang menghampiri. Aku tidak siap, kehilangan nenek. Bunda berkata, “Mbah udah di panggil Tuhan…” aku masih saja diam, tak percaya.

Sekarang, aku hanya bisa membisu, merindukan nenek. Sosok tua yang kurindukan, yang tak kutengok hingga malaikat menjemputnya.

Kini aku kehilangan nenek…

Kemarin, aku dipeluk oleh seorang nenek. Hawa haru menyergap. Bayangan nenek melintas. Sosok yang aku rindukan, yang aku takutkan tak lagi ada, kini memang telah tiada. Memunculkan kembali bayangan nenek dalam ingatan. Aku dipeluk oleh Ombai…

2 komentar:

Blasius Abram Agastya Wisesa mengatakan...

turut berduka yaa....

i know what u feel right now...

Ermaya mengatakan...

hiks...hikss...
mbahku yang kusayang, bim... :')