Kamis, Maret 19

Lagi...sebelum bulan kelima...


Ini tentang si pemberi inspirasi. Lagu cintanya yang tak terlalu terdengar hingga musim ini. Musim yang terhampar bunga sebagai penghias bumi, sayang bila dipijak.

Harum segar baunya yang setiap saat merebak tiap kali kudekat dengannya, si pemberi inspirasi. Belajar banyak tentang kehidupan bukan lewat bisikan, tapi kata-kata yang lugas. Yang tak manja namun selalu manis.

Seperti saat ia meninggalkan jejak tapak kaki di rumah bening ini, bau parfum yang segera hilang membuatku takut. Bagaimana bila aku tak hanya sekedar kehilangan bau parfumnya? Bila tak lagi mendapat hal manis di jarang waktu? Yang tak pernah disangka.

Selama kurang dari setahun ini, ia telah mengajariku banyak hal. Bagai seorang ayah yang mendampingi anaknya hingga pandai berjalan. Dari merangkak hingga terjatuh saat berusaha berdiri.

Ia menemukanku saat merasa tak ada lagi yang patut di jadikan sangga tuk bertahan.

Aku mulai khawatir T.T

Aku baru mendengar hal itu beberapa waktu lalu. Di mana ia harus menempuh ujian dan coba di saat yang telah ditentukan. Si pemberi inspirasi itu, akan pergi cukup lama.

Sesuatu itu begitu menyesakkan “Lagi-lagi ketakutan lama,” sabdanya

Ini memang ketakutan.

Aku berlari.

Hamparan musim semi penuh bunga kini tak terlalu mencuri perhatianku lagi.

Si pemberi inspirasi adalah hari. Esok ia pun tetap hari. Lusa ia tetap menjadi hari. Menghitung waktu hingga coba dan uji menjadi saat yang dinantikan, berurusan dengan semua orang dan rutinitas. Aku tak takut ia terlarut dalam rutinitas, aku takut ia luruh bersama musim semi lain.

Tidak ada komentar: