Kamis, Oktober 14

Tentang Menyerah, Sembilu Hati dan Senyum

Senyumku masam, ketika kuingat buliran air mata jatuh ke pipi yang kini tak mulus lagi.
Pikiranku menyelinap pelan ke masa dimana hanya ada aku, kau dan stagnansi.
Pelik memang,namun bagaimana konflik menghadapi sang stagnan dapat kita menangkan?
Atau menyerah? Hmm, tidak!

Memang kini segalanya telah baik-baik saja, namun tetap ada sedikit rasa mengganjal, ada yang tak terjelaskan. Aku dengan sembilu hati, berniat bilang padamu, bahwa semuanya begitu berharga menjelang dua puluh empat purnama ini. Itu sedikit sesalku, tak kubincangkan padamu. Saat kau membaca ini, pasti kau mafhum :)

Kinipun bumi akan terus berputar, meroda meninggalkan silam yang tertanam. Berada diatas maupun dibawah semoga kita tak bercorak hitam, kecuali wajahku yang tak bersinar lagi seperti dulu. Rona merah ini makin pudar karena aku makin tua, tak terawat pula. Usaha apapun untuk mengembalikannya tidak berhasil juga.

Aku, sekarang, menjalani hari untuk kemudian memberi senyum pada tiap pilihan :)

Tidak ada komentar: