Senin, Juli 15

Dahulu dan Kini; Kisah Perjuangan yang Berakhir Begitu Saja

Aku pernah berkisah dalam sebuah ruang maya, dibaca oleh ratusan pasang mata dan hanya beberapa yang meninggalkan kesan baik dibawahnya. Mereka yang mungkin tahu betapa aku menulisnya dengan penuh cinta, saat satu tahun bersama orang yang hingga hampir lima tahun mengisi kisah dalam beragam balutan nada hidup.
Dahulu: Ini tentang sebuah catatan cinta. Tentang harumnya nektar mawar yang wangi dari vasnya. Sepenggal cerita dari dua anak adam.
Kini: Ini tentang sebuah catatan rekahan sayap yang patah. Tentang menyayatnya sengatan lebah yang marah dari sarangnya. Segelintir kisah yang rumit.
Dahulu: Hari itu, saat beberapa bagian otak tersita untuk berlembar2 ilmu, ada yg berulang. Sebuah bulan yg sama, rintik hujan yg sama. Dan sebuah angka yg sama, dua puluh enam.
Kini: Hari itu, saat hujan tak datang dan panas tak menyengat, ada yang menyambar. Sebuah tanggal yang tiap bulannya akan menjadi sejarah perjuangan kasih. Angka yang (tetap) sama, dua puluh enam.
Dahulu: Kini dapat kurasakan benar harumnya mawar itu, nikmatnya berlari di bawah hujan dan tidak lagi bernaung. Dia, kini dia telah lepas dari jerat yg mengikat. Dia, kini sudah bisa kujangkau dan terasa lebih dekat.
Kini: Sekarang dapat kurasakan benar kejamnya aksara, yang merangkak angkuh dari suara yang tak pernah kuharap darinya terucap. Dia, kini tak bisa lagi kugamit dengan penuh sayang.
Dahulu: Kurang lebih dua belas purnama silam, kami menganyam. Sebuah ikrar untuk dapat berjalan beriringan, tak lagi sendirian. Meretas mimpi yang semakin bening pertanda terwujudkan.
Kini: Sudah lima puluh enam purnama sejak tahun 2008. Janji yang telontar, kita jalani bersama atau tidak sama sekali.
Dahulu: Terimakasih, untuk harumnya mawar yg kau sebar, untuk gerimis terindah yg pernah kudapat.
Kini: Terimakasih untuk saat yang sangat tepat untuk berpisah. Di tanggal yang sama saat pertama kali kita mengerti bahwa dunia ini pun indah bila dilihat dari sisi sebelah kiri.
Dahulu: Selamat dua belas purnama di dua puluh enam. Tempat, waktu dan suasana telah kita jemput di beberapa saat yg lalu, sambil menikmati keindahan malam di titik daerah yg sakral. Dalam hati aku berujar, "tidak ada yg bisa mengalahkan indahnya malam ini, genapnya dua belas purnama kami. ." masih dalam lamun dan diam, aku menggenggam tangan dari pria yg kusebut kekasih.
Kini: Selamat lima puluh enam. Hari itu akan menjadi sejarah, tentu tidak akan kulupakan. Karena bersamamu selama hampir bulat lima tahun, menjadi bagian indah sekaligus perih yang pernah kulalui. Terimakasih sudah mengawal perjalanan panjang ini. Perjalanan terpenting dari masa-masa kuliah. Perjalanan tersulit saat harus berpisah tanpa memutus silaturahmi. Perjuangan memberi pengertian pada yang lain bahwa terkadang waktu yang lama tak menjamin kisah cinta berakhir bahagia. Bisa juga duka dan lara. Sedih juga merintih.
Someday, i can say to myself: My scar has a way to remind me that the past is real. They counted on the humans to hide, give up and fail. They never considered our ability to stand, endure, that we would rise to the challenge(of love).
Goodbye to you, goodbye to everything that i thought i knew. God bless your future life. And i've decided to moving on. It sounds like cheesy-romantic-novels, just because the past hurt, doesn't mean it's gonna happen again when you open your heart again to the next, right?
Quotes from: Hanibal Lecter-Red Dragon movie. Raleigh Becket-Pacific Rim movie.

Tidak ada komentar: