Sabtu, Juni 6

Im-Posessive

Sebuah pilihan

Di sebuah kereta menuju kotanya, perempuan bermafela hitam itu memasrahkan dagu pada tangan kanannya. Pandangannya menembus kaca kereta yang retak di ujung kanan atas, mungkin ulah para pelempar batu yang tak sadar perbuatannya dapat mengancam nyawa si empu di sisi jendela itu. Seperti ia yang saat ini tak sadar, ia yang hanya melamun saja sejak menaiki gerbong kereta yang sudah dipesannya sejak lama.

Pikirannya terbang kepada kehangatan pria yang sudah lama ia kenal, yang selalu ia panggil dengan sayang. Matanya masih menatap nanar keluar jendela, pandangannya bertumpu pada lamunan, bukan rel yang terlihat melengkung karena cepatnya laju kereta.

Di telinganya sekarang mengalun suara Sting yang membuatnya tersadar dari lamun. Ia membetulkan mafela hitamnya, merapikan rambut yang sudah beberapa jam dibiarkan berantakan.

Monday, I could wait till Tuesday
If I make up my mind
Wednesday would be fine, Thursday's on my mind
Friday'd give me time, Saturday could wait
But Sunday'd be too late

Dia bisa saja terus menunggu si lelaki kesayangannya ini, tapi salahkah jika ia mulai goyah. Ia merasa kehangatan mulai menguap di antara mereka. Entah. Kehangatan yang dulu pernah hadir perlahan meranggas. Janji yang dulu pernah ada mulai pudar. Entah karena apa.

Ia memutar kembali satu demi satu kenangan hangat itu. Saat lelakinya berjanji untuk menikahinya dalam waktu dekat. Mewujudkan mimpinya untuk memenuhi ambisi sejak awal, menikah muda. Di bawah rintik hujan di dalam mobil, saat mereka berteduh. Kini janji, hanya tinggal janji, sebuah bentuk nyata luapan emosi. Mungkin benar, jangan pernah mengambil keputusan saat marah, jangan pula berjanji saat kau sedang bahagia. Itulah bahayanya suasana.

Di tempat lain, lelaki itu bukan tidak tahu apa yang telah ditanamkannya di masa lalu. Saat itu, ia hanya tidak mau kehilangan wanita bermafela hitam. Tapi, sesungguhnya ia sadar betul dengan ucapannya, hanya saja waktu sepertinya harus terulur, lagi. Hanya perlu sedikit lagi sabar untuk mewujudkan mimpi sang wanita. 

Sting mengalun kembali, perempuan bermafela hitam membuat keputusan. Ia akan benar-benar meninggalkan jika memang apa yang ditunggunya tak akan pernah datang. Ia tidak akan benar-benar meninggalkan karena ia masih begitu sayang, asalkan...

"Seven Days" was all she wrote
A kind of ultimatum note
She gave to me, she gave to me
When I thought the field had cleared
It seems another suit appeared
To challenge me, woe is me
Though I hate to make a choice
My options are decreasing mostly rapidly
Well we'll see
I don't think she'd bluff this time
I really have to make her mine
It's plain to see
It's him or me



Jakarta, 6 Juni 2015

Minggu, Mei 17

Monday


Monday is waking up early and not to giving up too easily.

I'm too excited, because this Monday is different with another one.

You can hold his hand. And hug him anytime you want. He has appeared in this life, knowing that life is good at its best.

Thank you for being born in this such beautiful world. Happy Monday!

Senin, Maret 30

Salam Perpisahan

Jika esok memang kita berjumpa di persimpangan. Ingatlah bahwa aku pernah mengusap kepalamu dengan penuh sayang. Jika esok kita berjumpa, ingatlah bahwa kau pernah berkali-kali mengulurkan tanganmu saat aku terjatuh. Bahwa kau pernah bawa aku tersaruk di antara nikmat dan lara. Bahwa kau pernah tinggalkan beragam pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Bahwa kau pernah jadi senandung hidup tanpa nada. Bahwa kau pernah ada di sini meski kita tidak lagi saling kuasa atas rasa dan hati.

Sampai jumpa lagi. Semoga hidup kita selalu dalam naungan pelangi. Dan segera rasakan kembali kikuk jumpa pertama di persinggahan lainnya. 

Sampai jumpa. Au revoir.

Sabtu, Maret 28

Dariku. Perempuan yang Ragu.

Hai lelaki penuh tawa,

Ah, aku masih merasa bahwa hidup ini hanya sekadar mampir bersenda gurau, dan menari dalam drama menghanyutkannya. Tidakkah kau rasa bahwa skenario yang Tuhan torehkan untuk kita ini, adalah skenario terlucu jika kita bisa membacanya dalam sebuah buku? 

Masing-masing dari kita punya cerita yang berbeda di masa silam. Meskipun ada beberapa kebetulan yang akut, tentang lamanya kau bersama dengan sebelumku, dan aku dengan sebelummu. Kisah yang tidak memakan waktu lama ini, kuharap tak akan berakhir dalam waktu yang singkat saja. 

Tidak akan ada yang bisa menebak, dengan siapa akhirnya kau jatuh cinta. Orang asing yang baru kau temui kemarin, atau bahkan dia yang sudah kau anggap sahabat sendiri. Dan di antara kelimun embun, aku menemukanmu.

Jujur kuakui, pernah satu waktu aku tampik perasaan serba aneh dan cepat ini. Aku pikir, ini adalah waktu untuk mengisi kekosongan kita masing-masing. Namun, seiring berjalannya hari, kau runtuhkan benteng ragu. Di gate keberangkatan, selalu kau ulang, "sepuluh bulan dari sekarang, cuma kamu yang aku cari."

Tapi, tahukah kamu? Terkadang aku merasa, kau sangat mudah memutuskan untuk jatuh hati. Lalu, apakah masih ada lagi hati lainnya yang akan kau singgahi?

Ini bukan waktunya bermain-main lagi, lelakiku. Sudah cukup waktu bermain dengan ketidakjelasannya, yang membuatku habiskan waktu dengan sia-sia. Setidaknya, aku pernah mencoba untuk menjaga, tetapi segalanya berujung nestapa. Aku ditinggalkan tanpa beban, mengatasnamakan masa depan. Cih! Coba saja aku tahu akan berujung seperti ini, mungkin tidak akan aku jalani dengan runtut hingga dimakan keriput .

Semua orang tahu betul, aku sarat dengan kekurangan. Mereka benar, bahwa kau harus cukup yakin jika ingin membawa seseorang ke masa depan. 

Akupun tengah mendaras doa, apakah memang kau yang terakhir dan satu-satunya yang akan melantunkan kalam suci itu? Barisan aksara magis yang kelak membuat dua orang terikat selamanya.

Lelakiku, i thought the ultimate goal right now, is to eventually settle down. We may have loved too soon and it was too crazy, but let's walk and talk. Then, we'll find a way to the right path. No?

*Di antara kelimun hujan kita sama-sama tersadar, begitu cepat segalanya berubah, begitu cepat segalanya berjalan. Sudahkah kau tetapkan hatimu?


Kamis, Maret 12

A Long Conversation

Right now all people all over the world are just like you. They're missing somebody. They're in love with someone they probably shouldn't in love with. They have secret you wouldn't believe. 

They wish, they dream and they hope.

They are just like you, you could tell them everything. And they would understand.

And right now, they are sitting together with you. Having a long conversation about the future. He is just like a stranger before, but getting closer to you.

He is mr. Weird. He falls in love like would fall from bicycle. All of sudden.

Minggu, Februari 15

Setelah Tujuh Puluh Tujuh Senja

Akulah wanita yang asing pada dirinya sendiri. Tubuh ini bagai penjara sesal dan gudang cinta untukmu. Rasanya aku kembali tidak paham atas perasaan ini. Kehilanganmu namun merasa masih memiliki jiwamu.

---

"Nantinya kita harus melangkah di hari ini dan esok, bukan kembali ke belakang, menengok seonggok kenangan."

---

Kau seperti burung besi, melesat jauh secepat kilatan cahaya. Kau lelaki sayap besi, pencipta kenangan yang maha. Kau pohon yang kokoh, kuat ditempa hujan berkelanjutan. Tanganmu selembut kapuk, mampu membuatku mabuk. 

---

Restoran cepat saji untuk berbuka puasa. Kau datang mendekat berikan sepaket makanan, tidak ketinggalan green tea ice cream sebagai inisiatif untuk menarik kesan yang baik.

Langkahmu, bajumu, baumu, tinggimu, rangkulanmu, masa-bodoh-tapi-perhatian-mu. Saat ini aku ingat semua itu. Tidak ada yang sepertimu. Aku terlalu lemah tanpamu. Aku yang saat itu tidak sadar, sembilan puluh sembilan hari selepas malam ini kau akan meninggalkanku, selamanya.

---

Di toko buku kau iseng menutup mataku dengan tangan kapukmu, berbisik "jangan serius-serius, nduk..." Aku bergidik dan mencubit perutmu. Ah, bahkan saat itu aku masih bisa tenggelam dalam pelukanmu, dan menengadah mencari senyum jahilmu. Aku benci mengingat ini, tapi sungguh aku tersiksa merindukan aromamu.

---

Kau kertas dan aku pena. Kita bersinggungan menghasilkan puisi berima.

---

Di toko ice cream kau menatapku dalam, kemudian berujar,"ikat lagi rambutmu, aku selalu terpesona melihat keseluruhan rahangmu."

---

Aku kembali pada kenyataan, buaian tentangmu harus kembali kurapikan. Salah-salah malam ini kau sambangi aku lagi lewat satu-satunya medium. Bermimpi. Kemudian, pasti aku melemah lagi. Mengingatmu lagi. Menginginkanmu kembali. Memusuhi Tuhan sendiri. Menyiksa diri dengan aroma maskulin lelakiku.

Tujuh puluh tujuh senja dari pertemuan terakhir kita, di mana kau selalu merajuk untuk bertemu amat lama. Besok tujuh puluh tujuh bergeser ke tujuh puluh delapan. Hampir mencapai seratus dan aku masih sangat mencintaimu. Mencintai ingatanku yang merekam tawamu, tinggimu, rangkulanmu. Mencintai tangan kapukmu. Mencintai bisikanmu. Mencintai caramu mencintaiku.


"Mengapa waktu itu kau Rabu dan aku Sabtu, mas?"


Jumat, Februari 13

Good luck letter for you

I know you have purpose that i never know. 

What i know is you are there for something very specific. It's your once in a lifetime, a chance to fulfill your destiny. 

Thoughts and feeling come and go. 

People also. 

So, all the best.

Minggu, Februari 8

Surat untukmu: Aku mulai terbiasa

Kau adalah pria yang pernah menjemputku di suatu kesempatan yang tidak pernah kubayangkan akan sampai pada titik sejauh ini. Bukankan hidup itu penuh dengan misteri. Kau dan aku, bahkan belum pernah sekalipun bertegur sapa. Dan aku punya seseorang yang sangat aku sayang dan hormati sebagai pemilik hatiku saat itu.

Kau adalah pria yang dengan polosnya berkata, "mbak, kamu bagus pakai jersey dan sneakers itu." 

Kau juga pria yang pertama kalinya berani berkata,"kalau sudah menikah nanti, usahakan di rumah aja ya. Jaga anak-anak. Mereka beruntung punya ibu yang pintar." Ah... Itu pernyataan yang kamu lontarkan belum lama ini.

Aku merekam kenangan ketika kita pernah sholat berjamaah di tempat les bahasa inggrisku. Lafal merdu surat Al-Quran itu membuatku bergidik. Bahkan mengingat kamulah yang memintaku untuk membawa perlengkapan sholat sebelum kamu jemput. Ini belum seberapa maha, kamulah yang selalu mengingatkan aku untuk sholat hajat. Katamu,"walaupun bandel gini, siapa tahu nanti ada yang berubah pikiran buat jadi istri seorang anak bandel tapi sholeh." Senyum malu dan semburat pipi yang memerah tertangkap basah dari wajahmu.

Ingat saat kita makan di masakan kaki lima yang pedas itu? Kamu berkali-kali mengipasi lidahmu, seolah akan membantu meredakan pedasnya. Wajahmu kembali memerah, kali ini karena daging ayam dengan bumbu pedas level 5. Siapa suruh memesannya? Malamnya kamu mengeluhkan perut buncitmu kepanasan. Dan berkali-kali menyambangi toilet.

Aku ingat semua tentangmu. Sampai sekarang, saat kamu sudah diambil Tuhan.

---

Aku adalah wanita yang pernah kecewa karena pria yang meninggalkanku. Kamu yang pertama aku kabari ketika aku (sementara) tak lagi menjalin hubungan dengannya. Saat itu kamu hanya bilang,"yang sabar, nduk. Nanti pasti baikan lagi kok. Kalian itu kan udah lama pacaran. Eman lho."

Aku adalah wanita yang pernah melihatmu berjalan sendirian di pelataran mall di Jogja. Aku bersamanya kala itu. Dan ternyata kamu menyambangi seorang wanita, mantan kekasihmu. Kita sama-sama tahu kehadiran masing-masing. Tapi tidak ada yang menegur lebih dulu. Dan esoknya ketika bertemu, seolah tidak pernah ada cerita dengan latar di mall itu. Aku masih menyimpan rahasia ini sampai sekarang, saat kamu sudah berpulang.

Aku adalah wanita yang kembali bersama kekasihku, tetapi selalu ada waktu untuk perang ejekan di media sosial denganmu. Mungkinkah saat itu sebenarnya awal mula dari kamu mulai masuk dalam hidupku?

Aku adalah wanita yang kembali merasakan keterpurukan itu. Ditinggalkan untuk yang kedua kali. Namun, kita terpisah jarak beratus-ratus kilometer. Kau yang sedang belajar terbang di sana, pasti kaget ketika aku sapa,"mas, aku putus lagi."

"Nduk, Agustus ini di Jogja kan? Cerita-cerita ya."

Ini awal dari semua. Aku yang bercerita panjang lebar tentang alasannya meninggalkanku, sampai berlinang air mata dan kamu dengan lembut mengusapnya.

"People come and go."

Satu waktu kamu bersikeras untuk mengenalkanku pada mamahmu. Padahal saat itu, status kita hanya sebatas berhubungan intens lewat skype call, line dan telpon. Memang, berkali-kali kamu selalu bertanya,"apalagi yang kamu khawatirkan, nduk?"

Sampai suatu ketika aku menutup jarak, ya benar, aku kembali dekat dengannya. Tapi kamu terus bertanya ada apa. Aku terus merahasiakannya.

---

Pukul 02.30 dini hari, kamu kirim pesan:
"Aku lagi liat-liat foto kamu di facebook. Benci banget buat bilang kangen. Tapi, we never know what the future brings. Entahlah, apa kita ditakdirkan untuk jadi sepasang suami-istri nantinya, atau sebatas berteman aja. Aku nggak bisa tidur dari tadi, padahal besok terbang pagi. Nduk, take your time."

---

Setelah itu, kamu jadi Jati yang sangat berbeda. Mulai mengurangi intensitas mengingatkan makan dan sholat. Membalas pesan sangat lama dan hanya menjawabnya singkat. Aku masih terlalu bingung, mas. Bagiku, masalah hati ini lebih sulit daripada PR matematika waktu SMA.

Aku menikmati hukuman dari kamu. Sampai bulan Mei itu, akhirnya kita bertemu. Aku senang sekali, tapi tidak dengan sambutanmu saat aku datang,"kok makin gendut..."

Bila hati ini senang, mengapa rasanya waktu bergulir sangat cepat? Tetapi setidaknya aku berhasil mengabadikan kita di sebuah foto. 

Menjelang lebaran kita bertemu lagi di kotamu. Kita mulai dekat lagi, tetapi sekarang ini, kamu tidak lagi menanyakan,"apa lagi yang kamu tunggu?"

Sampai aku beranikan diri untuk membuka percakapan,"mas, kok sekarang beda?"

Kamu bilang, tidak mau lagi-lagi berharap padaku. Kalau nantinya kita berjodoh pasti akan bertemu. Aku sebal, kamu menyebalkan. Kamu berubah dan aku yang tersiksa sekarang. Ternyata perlahan aku mulai menyayangimu.

---

Nyatanya, bulan Oktober menjadi bulan yang sangat menyakitkan. Dulu, aku pernah dilafalkan cinta di bulan ini olehnya, aku bersikukuh menjadikan Oktober sebagai bulan penuh kebencian dan dendam. Dan di bulan yang sama, aku harus kehilangan kamu untuk selamanya.

Kamu pergi terlebih dulu, saat aku mulai merasakan bahwa aku mencintaimu.

Mungkin ini salah satu pertandamu. Kamu menjauh, mengulur jarak dan mempersempit waktu untuk kita. Sebulan tidak ada kabar apapun darimu. Jauh sekali. Aku mulai terbiasa namun aku masih benci kamu yang berbeda. Aku merasa kamu tidak lagi menyayangiku, padahal aku mulai mencintaimu.

Ternyata kamu wariskan "mulai terbiasa" itu supaya aku: Terbiasa untuk tidak lagi diingatkan sholat. Terbiasa untuk menjaga kesehatanku sendiri dengan makan teratur. Terbiasa untuk mandi tepat waktu. Terbiasa untuk tidak menantikan kabar darimu. Tidak lagi tertawa-tawa menerima telpon darimu. Terbiasa menyambangi Jogja tanpa keluhan darimu. Terbiasa untuk mencintai tanpa memiliki fisiknya. Terbiasa tanpa kamu. Dan, terbiasa mencintaimu lewat doa.

Khusnul khotimah, Jati Wikanto.


Kamu benar, people come and go. Unexpectedly.

Senin, Desember 15

Kita, Fana

Aku rindu kamu, mas. Malam ini aku masih di kantor. Bergumul dengan deret rumus dan angka. 

Biasanya ada kamu yang membandingkannya dengan pelajaran terbang yang lebih mirip perspektif tiang listrik, dibubuhi dengan angka dan simbol derajat. 

Biasanya ada notifikasi "Jati Wikanto sent you an image". Taraaaaaaa, foto after gym yang perlihatkan lengan bergelambir, seolah ingin menunjukan kemajuan luar biasanya, dengan massa lemak yang sedikit sekali berkurangnya. 

Biasanya larut malam masih di kantor seperti ini ada kamu yang bilang,"mbok ndang pulang, jangan kemaleman. Nanti sampai kosan kabarin, hajatnya nggak boleh kelupaan ya, nduk.."

Ah...

Rindu ini sudah beberapa kali mencapai klimaksnya. Tapi aku tidak tahu cara mengobatinya. Hanya bisa lafalkan namamu di setiap doa.

Mereka bilang, aku jodohmu, namun kamu bukan jodohku.

Kita ternyata benar-benar fana. Hanya segelintir kenangan tentangmu yang bisa aku kais, itu yang abadi.

Aku mencintaimu, mas. Sampai sekarang, saat kamu sudah tiada.

Jumat, November 28

Sepeninggalmu

Hari ini adalah hari ke-30 kamu terbang menuju kehendak Tuhan. Tepat sebulan lamanya kamu meninggalkanku. Hari-hari tanpamu kini, membuatku sampai pada satu kesimpulan bahwa sesuatu akan terasa berharga jika telah tiada.

Kamu.

Tentang kita. 

Syahdan, kita adalah alkisah dengan alur yang tak pernah menemui ujung. Belakangan aku percaya bahwa kelak kita akan berada dalam satu atap, berbagi selimut, aku sebagai "co-pilot" saat kau menyetir, dan kau selalu menggenggam tanganku di atas persneling AB 70 S tanpa sedetikpun melepasnya (seperti yang sering kau lakukan saat kita berjumpa). Juga berada di masa di mana harus memilih interior untuk surga kita sendiri dan bertengkar kecil karena penempatannya tak sesuai selera. Tapi, kini aku dihadapkan pada kenyataan bahwa Tuhan memintamu untuk pulang lebih dulu, supaya aku tak berandai-andai terlampau jauh.

Tuhan. Jika memang Kau lebih sayang padanya, ijinkan aku untuk mengikhlaskan. Bantu aku untuk menguatkan hati ini. Mengobati lukaku sendiri. Tidak memintaMu lagi untuk mengembalikannya sesuai keinginan hati. Karena sebelum ini Kau pernah menghadirkannya sebagai pelipur lara yang kedatangannya tak begitu kuhargai.

Sepeninggalmu rasa sesal menjalar. Mengapa tidak sedari dulu aku persilakan kamu masuk perlahan. Memberi warna pada kelabu. Membuat mata ini berbinar. Menciptakan ukir senyum terlebar dan arsir wajah yang sumringah. Pada akhirnya menyalakan pijar.

Sepeninggalmu seluruh rutinitas terasa pahit. Kecuali saat aku bisa menyadarkan diriku sendiri untuk kembali bangkit. Aku pernah rasakan keterpurukan karena masa yang telah berlalu. Namun, untuk kehilangan yang mulai kucinta dan gagal dalam membahagiakan sosok baik sepertimu, aku sungguh tidak siap dan ini jadi sesalku yang teramat.

Tuhan. Jagalah hatinya dan sandingkan dia dengan bidadari tercantik di surgaMu. Aku yakin Kau mengambil dan memberikan sesuatu jika seseorang telah benar-benar siap untuk itu. 

Tuhan. Sampaikan salam rinduku padanya, untuk lelaki-sayap-besiku.




Malam ini adalah puncak rindu terdahsyat. Kau berpulang tanpa tinggalkan satupun pesan. Hanya melatihku untuk terbiasa tanpamu satu purnama lamanya.

“You are the only person I can talk with about the shade of a cloud, about the song of a thought. See you soon my strange joy, my tender night.” - Vladimir Nabokov

And now, absence makes the heart grow fonder. Goodbye, farewell, my airman. I'm searching for meaning, and i realized you had my heart at least for the most part.

Jumat, November 21

Surat untuk Jati


Dear mas Jati...

Kemarin 8 November 2014, aku menyambangi kediaman kamu, mas. Disambut mamah dan bapak, juga kakak pertamamu, serta istrinya.

Awalnya kami berbincang, sampai di satu titik, mamah kamu menyadari aku siapa, seperti familiar. Mamah sontak memastikan namaku sama seperti yang disebutkan di beragam ceritamu, lalu beliau memelukku dan berbisik, "Maafin Jati, ya."

Aku menangis, mas. Tidak seharusnya mamah bilang begitu, justru aku yang mestinya lebih dulu meminta maafmu, lalu haturkan maaf ke beliau. Masyaallah. Kami semua sedih, mas. Aku berkali-kali menggenggam tangan mamah, berharap paling tidak bisa menguatkannya supaya berhenti menangis. Tetapi, mamah melanjutkan ceritanya, tentang terakhir kamu menemani beliau, kamu merangkulnya sambil berujar, "Mamah kok pendek, to?"

Dari situ mamah mulai berlinang air mata lagi.

Dalam hatiku ngilu, mas. Tapi supaya mamah kamu tidak sedih-sedih lagi, aku ceritakan kisah lucu kamu, emm, kisah kita tepatnya, mas. Awal kita bertemu, sampai alurnya yang mirip parodi 500 days of summer. Ah, bahkan kakak pertamamu juga tertawa mendengarnya. Keluargamu sungguh hangat dan menenangkan. Tidak heran kamu selalu rindu untuk pulang.

Aku dan mamahmu tersayang bertukar nomor handphone. Mamah meminta PIN BBMku, tapi kamu tahu kan, mas? Aku tidak pernah mendownload itu. Akhirnya kita beralih ke media lain untuk ngobrol. Sorenya aku langsung mengunduhnya dan minta PIN mamah. Kami ngobrol lagi, mas. Mamah cerita harapannya bisa umroh full team Januari depan, menunggu dek Singgih, adikmu yang sedang studi di Jerman, pulang.

Sungguh, memang belum berjodoh, mestinya minggu depan setelah latihan manuver 30 Oktober 2014 kemarin, kamu medex ke Jakarta. Yang mana dapat dipastikan kita bisa nonton bareng lagi di Kokas, mall favoritmu ya, mas?

Mas, dari sekian banyak cerita tadi, satu yang bikin hatiku semakin ngilu, waktu lihat Abang. Kucing peliharaan kamu yang katanya cuma mau peluk-peluk kamu. Yang sudah siap menunggu di depan pintu dengan "ngeong" manjanya kalau kamu sudah terlihat muncul di gerbang rumah. Kemarin, dia seperti menunggu. Berdiam di depan pintu sambil sesekali menengok ke arah jalan. Aku kira pasti Abang menunggu kamu pulang. Kamu banyak bercerita soal Abang, betapa kamu sangat sayang sama kucing lucu ini.




Di 20 November 2014 kemarin, KNKT sudah memutuskan bahwa Liberty-mu dinyatakan hilang. Shocknya sama seperti saat pertama kali dengar kamu jatuh bersama pesawat itu. Sekolah menyelenggarakan pelepasan, sedih melihat fotomu terpampang di situ, aku dapat dari Patrick foto ini, mas. Dia yang selama ini memberi kabar terbaru tentang kamu.




Jauh di dalam hatiku, mas. Aku mohon maaf, karena belum bisa sepenuhnya membahagiakan kamu yang sudah begitu banyak memberi perhatian dan kasih sayang. Kemarin itu, aku masih terlalu rapuh untuk mengerti perasaanku sendiri. Masih takut untuk menghidu aroma orang lain meskipun kamu sudah lama kukenal. Namun, aku beruntung kamu hadir, dan selalu sabar menasihatiku dari jauh. Mengajakku untuk bersyukur dan mengambil hikmah atas segala kejadian di masa lampau. 

Dear mas Jati, 
kamu sudah terbang lebih jauh dari sebelumnya. Kamu terbang mengejar cita-cita dan berada di derajat paling tinggi saat meninggalkan kami semua.

Stay safe up there, my Airman. My dearest.

Semoga lafal cinta dan doaku bisa menembus awan tempatmu menuju ya, mas. 

Terimakasih untuk pertemanan lucu tanpa tuntutan apapun, selama hampir lima tahun.

Terimakasih banyak untuk kasih sayang dan perhatian tak terhingga selama hampir 12 bulan lamanya. Maaf atas semua khilaf yang telah menyakiti hatimu. Kamu berkali-kali bilang bahwa tidak ada dendam. Hanya ada dua hati yang belum siap untuk dipertemukan dalam sebuah kalam, juga aksara yang mengikat dua.

Selamat jalan, mas Jati. Doaku mengiringi kepergianmu. 

Khusnul khotimah, R. Jati Wikanto. 

You're the one who always keep me stronger, wiser and happier.




I love you, wholeheartedly.

I truly believe you're in a better place right now. Let's just stare and talk to each other if we have an occasion. Through a dream? Or several dreams?

Selasa, November 11

Adios, cool Amante

Good morning, J.

Good night, J.

Get back to me soon, J.


It would be good to see you home. I just wanna know and love you better. But now, i'm finding out that all is right at home. A new home, new chapter of life. 

Allah knows the best. Allah loves you better than me.

The one who ever called me as sweet as an apple pie...

See you in another life. I'm telling you to never feel alone. I'm with you.

Adios, cool Amante. Adios.


Senin, November 3

Pulanglah, kami menantikanmu 2

Lelaki sayap besi,
Tepat di hari kemarin ransel, buku, file-file sekolah, tempat kacamata dan dompetmu ditemukan. Pun ada foto keluargamu yang manis sekali sedang mengenakan batik di barisan kartu identitas lain. Kamu family-person-type sekali.

Lelaki sahabat awan,
Hari ini mereka pulang dengan tangan hampa. Waktu dijadwalkan dua hari lagi sebelum berakhir. Segeralah pulang, jangan kamu ulur kekhawatiran ini lebih panjang. Berkilaulah, sehingga kamu terlihat mencolok di sekitar kabut yang membutakan.

Sepulangmu kemari akan ku hadiahkan Chatime Hazelnut Latte dengan banyak pearl kesukaanmu.

Lelaki pagi,
Segeralah pulang, kemudian kita berbincang...




...because,





Jumat, Oktober 31

Pulanglah, kami menantikanmu

Mas Jati,
Gimana kabarmu? Sekarang ini aku sedang melihat berita di televisi, dan ada namamu di situ. Melintas seketika raut wajahmu. Mataku mulai samar, lalu kemudian basah.

Mereka masih mencari keberadaanmu. Mereka temukan serpihan alumunium foil, fire exthenguiser dan life jacket yang mestinya kamu kenakan. Meskipun aku tidak tahu kamu di mana, tetapi aku selalu merasa kamu sedang berjuang pulang dan bertahan untuk keluarga yang kamu sayang.

Mas Jati,
Sebelum menulis ini, aku sudah sholat dan makan. Seperti yang selalu kamu ingatkan, "Kewajiban sama Allah jangan dilupain, asupan gizi buat badan juga penting. Tapi ojo kakehan mangan yo nduk, ngko lemu."

Kamu itu lucu. 

Kamu tahu mas? Di sini aku dan beberapa teman dekatmu bergelut dengan gelisah. Ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja karena kami tahu kamu kuat. Kamu punya ambisi besar untuk menyelesaikan studi terbangmu tahun ini. Seperti yang pernah kamu bilang, "nduk, aku kejar kelulusan akhir tahun, doakan ya." 

Pasti, mas. Selalu. Kejar! Kamu pasti bisa.

Satu waktu kamu pernah berceletuk,"aku mbok ditulis di blogmu, apa, kek... Pilotku.., terbang tinggi... Bla bla bla..," ujarmu sembari memeragakan adegan deklamasi. Kamu sungguh lucu. Tapi raut wajahmu selalu menunjukkan ekspresi datar. Banyak teman bilang kamu itu pria tanpa ekspresi. Ah, mas Jati...

Pada akhirnya, beberapa waktu lalu kita berjarak. Kita sama-sama tak keberatan, karena fokus kita masing-masing berbeda. Kamu, demi mamah dan bapak, demi kebahagiaan dan jadi kebanggaan mereka kan, mas? Tapi sejujurnya mas, di sebuah ladang dalam hati ini, rindu satu-persatu disemai. Menantikan datangnya pesan dari kamu. Ataupun skype call yang kemarin dulu pernah kita lakukan cukup sering. Tetapi jarak ini terasa begitu angkuh, mas. Aku tahu, kita sedang sama-sama menikmati sulitnya berjuang untuk berdikari. Komunikasi kita mengendur, karena memang tak ada yang mengikatnya.

Aku masih gemetar karena berita yang aku lihat selewat ini. Pesawat latihmu belum juga ditemukan. Namamu disebutkannya keliru oleh si reporter. Di sini tersempil harap bahwa bukan kamu yang menerbangkan liberty itu.

R. Jati Wikanto,
Sepertinya aku salah langkah atas rasa yang dulu. Tapi, rapuhnya diri karena sebab-yang-kau-tahu, masih begitu terasa. Maafkan aku, mas. Maaf. Aku yakin, kita masih bisa bertatap muka, dan lalu meminta maafmu.

Pulanglah, mas. Kita nonton lagi, banyak film baru yang tentu ingin kamu nikmati. The Judge, Fury, Chef? Which one, mas? Kamu yang pilih kali ini. 

Kepulanganmu sungguh akan menjadi keseluruhan yang utuh bagi kami. 

Kami menantikanmu, mas Jati.




Ermaya,
yang sering kau panggil dengan sebutan mbak ngapak dan si alay. Pulanglah, supaya kamu bisa lagi memanggilku seperti itu, aku janji tidak akan menggerutu.


Jumat, Oktober 17

Love is a game

Sepulang meeting. Jalanan Jakarta. Kemacetan. Riuhnya suasana di luar. Jendela taksi. Berkedip lebih lambat dari biasanya.

Teringat tentangmu lagi, yang dengan sesukanya hadir dan pergi. Ah, tidakkah kamu tau bahwa aku sudah lelah. Pasti sulit sekali bagi hati ini yang dengan mudahnya terlonjak gembira, kemudian redup lagi. Bergerak dari suka lalu bermuram kembali.

Apa yang kamu cari dari sebuah suasana? Yang dengan mudahnya mengingatkanmu pada seseorang. Datang, pergi, berhasil dan gagal. Naik, turun, suka dan duka.

Love is a game
of tic-tac-toe,
constantly waiting,
for the next x or o.

Rabu, Agustus 6

Aufklarung

Saat kedua lengan kanan dan kiri kita bersentuhan, mereka menciptakan kisahnya sendiri. Degup nadi yang mengalun dan derasnya aliran darah. Tegang. Salah tingkah.

Saat aku peluk kau dari belakang, ingin rasanya menahanmu lama di sini, memintamu untuk sekedar menggenggam tangan hingga mata ini tak kuasa menahan kantuknya.

Saat kau bicara kita lihat saja nanti, bergulir saja seperti embun melesat dari daun, tenang seperti air yang bebas berenang, pasrah menjalani dengan berserah. Aku ingin menjauh. Pergi sejauh-jauhnya. Berlari. Aku tak ingin lagi punya harap.

Aku ingin seluruhnya menjadi jelas. Aku hanya ingin kau ucap janji yang membuat terang segala buram.

Cause it's not easy to meet each other in such a big world...

Kamis, Juli 17

Kencan Rabu

Aku menunggumu di bawah sinaran mentari yang sedang terik-teriknya siang ini. Kau datang. Bersamaan dengan kacamata hitammu, tampak bergaya dan kekinian. Kau membuka percakapan dengan, "Pakailah tissue ini untuk bersihkan keringatmu."

Matahari masih tinggi-tingginya. Kita menyusuri jalanan kota kecil ini untuk pertemuan yang sudah kita rancang sedari lama. Rindu hanya satu obatnya. Pertemuan hari ini. Aku tidak lagi bisa bedakan arah, kiri atau kanan karena di sampingku hanya ada kamu. Konsentrasiku buyar. Semua terasa hanya kita berdua saja di sini. Aku senang.

Bulan lalu di hari yang sama, aku termenung sendiri di pojok kamar. Membayangkan datangnya hari ini. Sempurna seperti yang terasa. Benar-benar terjadi. Lingkar pinggangmu yang kini terasa semakin kokoh.

Dalam perjalanan pulang, yang aku sayangkan hanya waktu yang bergulir cepat. Tak peduli dengan kebahagiaan yang tengah aku alami. Waktu semena-mena memutarnya seperti gilingan kelapa. Cepat. Tak henti-henti berputar untuk mengaduk ampas-ampasnya.

Tetes hujan membasahi jalanan. Aku tersenyum sendiri. Melihatmu kini menggenggam tanganku. Akhirnya.