Tampilkan postingan dengan label katakataku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label katakataku. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juli 28

Tentang Sahabat

Saya punya seseorang yang sangat saya rindukan. Betapapun jahatnya dia. Seorang sahabat pena.Dia berasal dari negeri antah berantah. Setiap dua minggu, dia mengirimkan amplop berisi kertas bertinta merah. Hmm, setiap habis membacanya, mata saya pasi lelah. Padahal tulisan yang dia kirimkan tak begitu banyak. Kenapa mesti bertinta merah? Katanya, merah berarti marah. Ia mengirimkan surat dalam keadaan marah. Lalu apakah setiap dua minggu itu dia marah? Katanya, iya!

Dia memang aneh, Dia suka asik sendiri. Selalu memaki dalam isi suratnya. Memaki tentang seseorang, yang telah pergi mendahuluinya, seseorang yang di sayangnya. Ibunya.

Setiap malam dia pergi ke sebuah taman. Memberitahukan apa saja yang baru di pelajarinya dari sekolah. Bernyanyi, dia bernyanyi. Menulis, dia menulis. Menari, dia menari.

Setiap dua minggu menjelang, dia tumpahkan segala kekesalannya, pada ibunya, yang tak mau mendengarnya, yang tak mau membenarkan gerakan tarinya. Dia marah pada saya. Menumpahkan kesalnya pada saya.

Dan, sudah dua bulan ini saya tidak mendapat caciannya. Sudah dua kali saya mengirimkan balasan, namun tak ada jawaban.

Datanglah sebuah surat. Namun, bukan, bukan darinya.
Tidak bertinta merah, tapi biru.
Yaa, kali ini biru.
Dalam surat itu di tulis,"...ibu sudah mau mendengarku, ibu sudah mau membenarkan gerakan tariku. Aku selalu menari di sini. Dan ini, ini tulisan Tuhan, aku minta tolong padaNya untuk mengirim surat padamu, yang telah mendengarkan keluhku selama ini. Aku tak akan marah-marah lagi padamu. Aku, sudah bersama ibu. Jaga dirimu, sahabat terkasihku..."