Dia memang aneh, Dia suka asik sendiri. Selalu memaki dalam isi suratnya. Memaki tentang seseorang, yang telah pergi mendahuluinya, seseorang yang di sayangnya. Ibunya.
Setiap malam dia pergi ke sebuah taman. Memberitahukan apa saja yang baru di pelajarinya dari sekolah. Bernyanyi, dia bernyanyi. Menulis, dia menulis. Menari, dia menari.
Setiap dua minggu menjelang, dia tumpahkan segala kekesalannya, pada ibunya, yang tak mau mendengarnya, yang tak mau membenarkan gerakan tarinya. Dia marah pada saya. Menumpahkan kesalnya pada saya.
Dan, sudah dua bulan ini saya tidak mendapat caciannya. Sudah dua kali saya mengirimkan balasan, namun tak ada jawaban.
Datanglah sebuah surat. Namun, bukan, bukan darinya.
Tidak bertinta merah, tapi biru.
Yaa, kali ini biru.
Dalam surat itu di tulis,"...ibu sudah mau mendengarku, ibu sudah mau membenarkan gerakan tariku. Aku selalu menari di sini. Dan ini, ini tulisan Tuhan, aku minta tolong padaNya untuk mengirim surat padamu, yang telah mendengarkan keluhku selama ini. Aku tak akan marah-marah lagi padamu. Aku, sudah bersama ibu. Jaga dirimu, sahabat terkasihku..."